Sabtu, 21 Januari 2012

Waspadai Bahaya Anemia pada Anak

0 comments

Waspadai Bahaya Anemia pada Anak

Kita harus waspada dan tidak meremahkan yang namanyapenyakit anemia, terlebih pada anak- anak. Waspadai Bahaya Anemia pada Anak. Anemia adalah kekurangan sel darah merah, yang ditunjukkan oleh rendahnya tingkat hemoglobin yang sehat. Tingkat hemoglobin normal pada anak lebih rendah dari tingkat hemoglobin pada orang dewasa. Bayi baru lahir memiliki hemoglobin normal 170-200 g/l. Setelah lahir, konsentrasi hemoglobin menurun drastis sehingga pada usia 2-3 bulan kadar hemoglobinnya berkisar 110-120 g/l. Kisaran ini bertahan terus hingga usia sekolah, yang meningkat menjadi 130 g/l.
Anemia  dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak yang berdampak serius dalam jangka panjang. Asian Development Bank (ADB) mengatakan bahwa sekitar 22 juta anak di Indonesia terkena anemia, yang menyebabkan hilangnya angka IQ  5 sampai 15 poin, prestasi sekolah yang buruk dan kerugian potensi masa depan hingga 2,5%. Karena itu, kita semua harus mewaspadainya.

Penyebab

Anemia pada anak disebabkan oleh faktor-faktor yang sama dengan anemia pada orang dewasa. Namun, penyebab anemia pada anak-anak juga memiliki kekhasan tersendiri, di antaranya:
  • Kekurangan zat besi. Kekurangan zat besi adalah penyebab utama anemia pada anak. Sebenarnya, bila anak mendapatkan makanan bergizi yang cukup, sangat kecil kemungkinannya mereka mengalami kekurangan zat besi. Namun, banyak anak-anak dari kalangan tidak mampu yang kurang mendapatkan makanan bergizi sehingga mengalami anemia dan gejala kurang gizi lainnya. Anak-anak dari kalangan mampu juga dapat terkena anemia bila memiliki gangguan pola makan atau berpola makan tidak seimbang.
  • Parasit. Anak-anak dapat mengalami anemia karena mengidap cacingan. Pola makan anak mungkin normal, namun penyerapan nutrisinya terganggu karena diserobot cacing di dalam perutnya.
  • Menstruasi. Anemia dapat terjadi pada remaja putri yang mengalami perdarahan menstruasi berat dan berkepanjangan.
  • Infeksi. Penyakit infeksi tertentu dapat mengganggu pencernaan dan mengganggu produksi sel darah merah.
  • Penyakit ginjal. Anemia dapat menjadi tanda awal gangguan ginjal pada anak.
Jenis anemia khusus yang disebut anemia hemolitik disebabkan oleh penghancuran sel-sel darah merah secara prematur dan sumsum tulang tidak bisa memenuhi permintaan tubuh untuk sel-sel baru. Bentuk umum dari anemia hemolitik yang bersifat genetik adalah anemia sel sabit, talasemia, dan defisiensi dehidrogenase glukosa-6-fosfat. Jenis lainnya yang disebut anemia aplastik disebabkan oleh kelainan darah di mana sumsum tulang tidak membuat sel-sel darah baru dalam jumlah cukup.

Gejala

Anemia ringan dan sedang seringkali tidak menimbulkan gejala dan baru diketahui dari pemeriksaan darah. Anemia yang berlangsung lama mungkin hanya memberikan gejala tidak kentara seperti lemah dan pucat. Bila anemia terbentuk secara bertahap, anak dapat memiliki kadar hemoglobin yang sangat rendah tetapi tidak menunjukkan gejala yang jelas karena tubuhnya telah beradaptasi. Anemia yang berkembang cepat menimbulkan pengaruh yang lebih kuat dan lebih mudah dilihat.
Anak dengan anemia berat mungkin memiliki tanda dan gejala tambahan seperti sesak napas, detak jantung cepat, dan bengkak di tangan dan kaki.
Anak-anak yang kekurangan zat besi karena kurang gizi dapat memakan benda yang aneh seperti rumput, tanah, bunga dan daun-daunan. Perilaku ini disebut “pica” dan tidak berbahaya kecuali jika anak Anda makan sesuatu yang beracun. Biasanya “pica” berhenti setelah anemia diterapi dan anak tumbuh lebih besar.

Penanganan

Bila anak terlihat pucat, lemah, mudah lelah dan gejala anemia lainnya, Anda harus segera memeriksakannya ke dokter. Anemia yang disebabkan oleh kekurangan zat besi sangat mudah perawatannya. Dengan pemberian suplemen zat besi maka hemoglobin akan meningkat dalam beberapa minggu. Penanganan anemia karena sebab lain harus dihilangkan dulu penyebabnya agar efek pemulihannya permanen.

Tips mencegah anemia

  • Usahakan memberikan air susu ibu (ASI) sampai setidaknya anak berumur 12 bulan (idealnya sampai 2 tahun). Ibu menyusui disarankan mengkonsumsi makanan yang cukup zat besi.
  • Jika anak Anda sudah mendapatkan makanan tambahan, usahakan menambahkan sereal, bayam, kangkung, katuk dan sumber zat besi lainnya dalam menu makanan padat yang diberikan.
  • Jika Anda memberikan susu formula kepada bayi Anda, pilihlah susu formula yang diperkaya dengan zat besi.
  • Pastikan anak Anda yang lebih besar memiliki pola makan seimbang dengan makanan yang mengandung zat besi. Kuning telur, daging merah, kentang, tomat, hati dan sayuran adalah makanan alami yang kaya zat besi.
  • Ajarkan anak-anak kebiasaan hidup bersih sehingga terhindar dari penyakit infeksi dan parasit.

Penyebab dan Penanganan Anemia

0 comments

Penyebab dan Penanganan Anemia

Anemia adalah kondisi di mana darah Anda memiliki jumlah sel darah merah di bawah normal. Kurangnya sel darah merah ini biasanya diindikasikan oleh hitungan hemoglobin yang lebih rendah dari normal (lihat tabel).
Hemoglobin adalah unsur utama penyusun sel darah merah yang merupakan protein kaya zat besi dan berfungsi membantu sel darah merah mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh.
Bila jumlah hemoglobin Anda sedikit, sel-sel tubuh Anda akan kekurangan oksigen. Anda akan merasa lelah, lemas dan gejala anemia lainnya. Anemia parah dan menahun (kurang dari 5 g/dl) dapat mengakibatkan kerusakan jantung, otak dan organ tubuh lain. Anemia yang sangat parah  bahkan dapat menyebabkan kematian.

Gejala

Kadar Hb Normal
Pria dewasa13.5 – 17 g/dl
Wanita dewasa12 – 15 g/dl
Ibu hamil11 – 12 g/dl
Bayi baru lahir14 – 24 g/dl
Anak-anak11 – 16 g/dl
Tubuh yang mengalami anemia akan menunjukkan gejala seperti muka pucat, lelah, kurang energi/lemas, mengantuk, dan sakit kepala. Pada kasus yang lebih parah, anemia menyebabkan denyut jantung bertambah cepat, nafas tersengal dan pingsan.

Penyebab

Anemia terutama disebabkan oleh kehilangan darah, kekurangan produksi sel darah merah atau perusakan sel darah merah yang lebih cepat dari normal. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh:
  • Kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi, vitamin B12, asam folat dan vitamin C,  unsur-unsur yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah.
    • Kekurangan zat besi adalah penyebab utama anemia. Sekitar 20% wanita, 50% wanita hamil dan 3% pria mengalami kekurangan zat besi.
    • Tidak mengkonsumsi daging (vegetarian) dapat menyebabkan Anda kekurangan vitamin B12, jenis vitamin yang hanya ditemui pada makanan hewani (daging, ikan, telur, susu). Di kalangan non vegetarian, hampir tidak ada yang kekurangan vitamin ini karena cadangannya cukup untuk produksi sel darah sampai lima tahun.
    • Asam folat tersedia pada banyak makanan, namun terutama terdapat di hati dan sayuran hijau mentah.
  • Darah menstruasi berlebihan. Wanita yang sedang menstruasi rawan terkena anemia karena kekurangan zat besi bila darah menstruasinya banyak dan dia tidak memiliki cukup persediaan zat besi.
  • Kehamilan. Wanita yang hamil rawan terkena anemia karena janin menyerap zat besi dan vitamin untuk pertumbuhannya.
  • Penyakit tertentu. Penyakit yang menyebabkan perdarahan terus-menerus di saluran pencernaan seperti gastritis, radang usus buntu,dll dapat menyebabkan anemia.
  • Obat-obatan tertentu. Beberapa jenis obat dapat menyebabkan perdarahan lambung (aspirin, obat anti inflamasi,dll). Obat lainnya dapat menyebabkan masalah dalam penyerapan zat besi dan vitamin (antacid, pil KB, obat anti artritis, dll).
  • Operasi pengambilan sebagian atau seluruh lambung (gastrektomi). Ini bisa menyebabkan anemia karena tubuh kurang menyerap zat besi dan vitamin B12.
  • Penyakit radang kronis seperti lupus, artritis rematik, penyakit ginjal, masalah pada kelenjar tiroid, beberapa jenis kanker, dan penyakit lainnya dapat menyebabkan anemia karena memengaruhi proses pembentukan sel darah merah.

Penanganan

  • Bila Anda merasakan gejala anemia di atas dan orang-orang di sekeliling Anda melihat Anda tampak pucat dan lelah, segeralah berkonsultasi dengan dokter. Dokter akan menanyakan kebiasaan makan Anda dan obat yang sedang Anda minum. Anda lalu akan mendapatkan pemeriksaan fisik, pemeriksaan darah dan pemeriksaan penunjang lainnya untuk menentukan apakah terdapat anemia dan apa penyebabnya.
  • Penanganan anemia tergantung pada penyebabnya. Bila penyebabnya adalah kekurangan zat besi, dokter akan mencari tahu dan mengatasi penyebab kekurangan tersebut. Suplemen zat besi dalam bentuk tablet atau sirup mungkin diberikan. (Bila anemia disebabkan oleh masalah penyerapan pasca- operasi gastrektomi, pemberian suplemen akan diberikan secara intramuskular atau intravenal).
  • Pemulihan biasanya berlangsung enam hingga delapan minggu setelah penanganan. Setelah anemia tertangani, Anda masih akan terus menerima asupan suplemen zat besi hingga beberapa bulan untuk menjaga kondisi. Tinja Anda akan berwarna hitam selama perawatan.
  • Bila anemia disebabkan penyakit tertentu, satu-satunya solusi adalah menyembuhkan penyakitnya.
  • Anemia kronis yang ditandai dengan gejala parah seperti denyut jantung cepat, nafas tersengal dan pingsan mungkin harus segera ditangani dengan transfusi darah.

Tips

  • Mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi disarankan bagi setiap orang, terlebih bagi wanita yang menstruasi atau sedang hamil. Zat besi yang paling mudah diserap bersumber dari daging, ayam dan ikan. Beberapa makanan seperti sayuran, buah-buahan, sereal (yang diperkuat zat besi), telur dan kacang-kacangan juga mengandung zat besi, namun lebih sulit dicerna. Untuk mempermudah penyerapan zat besi, Anda dapat memakannya bersamaan dengan daging, ayam atau ikan atau dengan buah-buahan yang kaya vitamin C.
  • Anda tidak memerlukan suplemen zat besi kecuali direkomendasikan dokter. Suplemen zat besi berdosis tinggi dapat menyebabkan konstipasi dan tinja berwarna hitam. Selain itu, penggunaan suplemen zat besi yang tidak perlu dapat menyembunyikan masalah lain, misalnya perdarahan pada saluran pencernaan.
  • Wanita hamil disarankan mengkonsumsi suplemen makanan sesuai saran dokter, termasuk yang mengandung zat besi dan asam folat untuk mencegah anemia.
  • Mengkonsumsi buah-buahan kaya vitamin C seperti jambu, jeruk, sirsak, pepaya, dan anggur dapat membantu tubuh menyerap zat besi.
  • Menjalani diet vegetarian harus dilakukan dengan bijak karena dapat menyebabkan kekurangan vitamin B12. Vitamin ini sangat penting bagi pembentukan sel-sel tubuh, termasuk sel darah merah. Bila Anda tidak mengkonsumsi makanan hewani, Anda perlu mengambil suplemen vitamin B12.
  • Berhati-hatilah dalam penggunaan aspirin, ibuprofen dan obat anti inflamasi karena dapat menyebabkan iritasi lambung. Bila Anda harus mengkonsumsinya, konsultasikan dengan dokter jika Anda punya riwayat perdarahan lambung. Dokter mungkin akan mengganti dengan obat lain yang sesuai.

Sistem Golongan Darah

0 comments

Sistem Golongan Darah

Sebelum tahun 1901, transfusi darah adalah tindakan berbahaya. Banyak pasien yang meninggal dunia setelah mendapatkan transfusi darah karena sel-sel darah merahnya menggumpal. Ilmuwan Austria Karl Landsteiner menemukan bahwa penggumpalan darah itu adalah akibat reaksi imunologis terhadap darah pendonor. Temuan Karl Landsteiner ini membuka jalan bagi penggolongan darah dan transfusi darah yang lebih aman. Atas jasanya itu, Landsteiner dianugerahi hadiah Nobel pada tahun 1930.

Penggolongan Darah

'Blood type towel' photo (c) 2009, Chris Gladis - license: http://creativecommons.org/licenses/by-nd/2.0/
Dua metode utama untuk menggolongkan darah adalah sistem ABO dan sistem Rh. Dalam sistem ABO, darah dikelompokkan menjadi golongan A, B, AB dan O. Dalam sistem Rh, darah digolongkan sebagai Rh+ atau Rh-. Ada banyak sistem penggolongan darah lainnya, tapi sistem ABO dan Rh adalah yang terpenting untuk transfusi darah.

Penggolongan darah sistem ABO

Setiap manusia dewasa memiliki sekitar 4-6 liter darah yang beredar dalam tubuhnya. Darah membawa oksigen dan nutrisi ke setiap sel dan mengambil produk-produk limbah (seperti karbon dioksida) untuk pembuangan. Darah terdiri dari beberapa tipe sel yang mengambang dalam cairan yang disebut plasma, yaitu: sel darah merah yang membawa oksigen, sel darah putih yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh, dan platelet/trombosit yang membantu pembekuan darah. Plasma mengandung garam dan berbagai jenis protein.
Perbedaan golongan darah terjadi karena adanya molekul protein yang disebut antigen dan antibodi.Antigen terletak pada permukaan sel darah merah dan antibodi berada di plasma darah. Setiap orang memiliki jenis dan kombinasi yang berbeda dari molekul-molekul tersebut:
  • Golongan darah A: Anda memiliki antigen A pada permukaan sel darah merah dan antibodi B pada plasma darah Anda.
  • Golongan darah B: Anda memiliki antigen B pada permukaan sel darah merah dan antibodi A dalam plasma darah Anda.
  • Golongan darah AB: Anda memiliki kedua antigen A dan B pada permukaan sel darah merah dan tidak ada antibodi A atau B sama sekali dalam plasma darah Anda.
  • Golongan darah O (nol): Anda tidak memiliki antigen A atau B pada permukaan sel darah merah, tetapi Anda memiliki antibodi A dan B dalam plasma darah Anda.

Penggolongan darah sistem Rh

Golongan darah dalam sistem ini dulu disebut “tipe Rhesus” namun sekarang hanya disebut “tipe Rh”.  Tipe darah Anda Rh+ atau Rh- tergantung pada hadir-tidaknya molekul tertentu. Bila Anda memiliki antigen Rh di permukaan sel darah merah Anda, maka Anda memiliki tipe Rh+. Bila tidak maka disebut tipe Rh-. Kebanyakan orang memiliki darah bertipe Rh+.
Bila Anda memiliki darah Rh-, tidak ada antibodi Rh alami dalam plasma darah Anda. Namun, Anda dapat mengembangkan antibodi Rh jika menerima darah Rh+. Antigen Rh dapat memicu produksi antibodi Rh. Bila darah Anda bertipe Rh+, Anda dapat menerima darah Rh- tanpa masalah. Sebaliknya, bila darah Anda Rh-, Anda akan mengalami reaksi sistem kekebalan tubuh yang parah jika darah Rh+ memasuki tubuh Anda.

Notasi golongan darah

Menurut kedua sistem di atas, darah Anda dapat dikelompokkan ke dalam salah satu dari 8 golongan darah berikut: A Rh+, B Rh+, AB Rh+, 0 Rh+, A Rh-, B Rh-, AB Rh-, 0 Rh-.

Transfusi darah

Transfusi darah adalah transfer unsur darah atau darah dari satu orang ke orang lain. Agar transfusi darah berhasil, golongan darah menurut ABO dan Rh harus kompatibel antara darah donor dan darah pasien. Jika tidak, sel-sel darah merah dari darah yang disumbangkan akan menggumpal. Antigen A dan antibodi A dapat berikatan satu sama lain, demikian pula antigen B dan antibodi B. Hal inilah yang terjadi jika, misalnya, orang bergolongan darah B menerima darah dari orang bergolongan darah A. Sel-sel darah merah akan bergabung seperti tandan buah anggur. Sel-sel darah merah yang menggumpal ini dapat menyumbat pembuluh darah dan menghentikan sirkulasi darah ke berbagai bagian tubuh. Gumpalan sel darah merah juga dapat pecah dan isinya bocor. Hemoglobin yang terdapat dalam sel darah merah akan menjadi racun saat berada di luar sel.
Anda selalu dapat memberikan darah ke orang lain yang memiliki golongan darah sama. Namun dalam beberapa kasus, Anda dapat menerima darah dari orang bergolongan darah berbeda, atau menyumbangkan darah ke orang yang memiliki golongan darah berbeda. Orang bergolongan darah O Rh- dapat memberikan darah kepada siapa saja (“donor universal”) dan orang bergolongan darah AB Rh + dapat menerima darah golongan apa saja (“penerima universal”).

Masalah pada bayi

Jika seorang wanita yang ber Rh- hamil dengan suami ber Rh+, ada potensi masalah kesehatan bila sang bayi memiliki Rh+ yang diwarisi dari ayahnya. Masalah mungkin belum timbul pada kehamilan pertama karena darah janin biasanya tidak memasuki sistem peredaran darah ibu selama kehamilan. Namun, saat melahirkan yaitu ketika plasenta lepas, darah ibu dan darah bayi bisa berbaur. Tubuh ibu menganggap protein Rh pada darah bayi sebagai zat asing, seperti halnya bakteri atau virus, dan mulai memproduksi antibodi terhadapnya. Sang ibu menjadi “peka” terhadap Rh. Pada kehamilan berikutnya, antibodi Rh ibu dapat melintasi plasenta untuk melawan sel-sel Rh+ yang terdapat pada darah bayi. Sel-sel darah merah bayi menggumpal dan pecah, sehingga bayi dapat mengalami anemia berat. Kondisi ini disebut eritroblastosis fetalis karena inkompatibilitas Rh atau penyakit hemolitik.
Untuk mencegah kondisi di atas, pada ibu yang memiliki Rh- dan belum mengembangkan antibodi Rh, dokter dapat memberikan suntikan imunoglobulin Rh (RhIg) kepada ibu selama kehamilan dan dalam 72 jam setelah melahirkan. Serum yang berisi antibodi Rh ini bekerja memecah Rh pada sel-sel darah merah bayi di tubuh ibu sehingga sang ibu tidak sempat mengembangkan antibodi sendiri.
Meskipun lebih jarang, penyakit hemolitik pada bayi yang baru lahir juga dapat terjadi ketika seorang ibu dan bayinya memiliki golongan darah ABO yang inkompatibel, yaitu:
Golongan darah ibu O - A - B
Golongan darah bayi A atau B - B - A